Strength - Breast Cancer Awarenessphoto © 2008 Amarand Agasi | more info(via: Wylio)
Sel tubuh mengalami siklus pertumbuhan dan kemunduran secara teratur,
yang prosesnya dikendalikan oleh gen dalam inti sel. Apabila gen
mengalami gangguan, maka pertumbuhan sel tidak lagi terkontrol sehingga
mengganggu fungsi tubuh. Sel yang tumbuh tidak terkontrol tersebut
disebut kanke
r. Bila terjadi pada payudara, maka dinamakan kanker
payudara. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker payudara dapat menyebar
ke kulit, limpha, liver, otak, paru, dan organ lainnya melalui peredaran
darah.
Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita Indonesia setelah kanker leher rahim.
Faktor Risiko Kanker Payudara
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker payudara:
Keluarga dekat (ibu dan saudara perempuan) ada yang sudah terkena.
Sekitar 20% penderita kanker payudara memiliki saudara yang juga
terdiagnosis kanker tersebut.
Menstruasi terlalu awal (<di bawah 12 tahun) atau terlambat menopause (> 50 tahun)
Usia di atas 50 tahun. Kanker payudara memang menyerang semua wanita
tanpa memandang usia, namun semakin meningkat usia wanita, semakin besar
risikonya. Wanita di atas 50 tahun memiliki risiko kanker payudara
hingga 5-7%.
Tidak pernah melahirkan anak atau memiliki anak pertama di atas 30 tahun.
Merokok dan mengkonsumsi alkohol.
Belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa radiasi ponsel dan konsumsi minuman bersoda dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Gejala Kanker Payudara
Kanker payudara pada stadium awal biasanya tidak menimbulkan gejala.
Namun, pada stadium yang lebih lanjut salah satu atau beberapa gejala
berikut mungkin dirasakan:
Benjolan atau penebalan di dalam atau di sekitar payudara dan ketiak.
Perubahan ukuran dan bentuk payudara.
Keluarnya cairan dari puting susu.
Perubahan warna atau bentuk kulit di sekitar payudara, areola, dan puting susu.
Ingat bahwa gejala-gejala tersebut di atas tidak selalu disebabkan oleh
kanker payudara. Infeksi dan kista payudara juga bisa menimbulkan
gejala yang sama. Bila Anda mengalami tanda-tanda tersebut, segeralah
berkonsultasi dengan dokter.
Diagnosis
Deteksi kanker payudara bisa dilakukan dengan:
Perabaan. Dokter atau Anda sendiri bisa melakukan perabaan untuk
mengetahui keberadaan, ukuran dan tekstur kanker payudara. Tidak semua
kanker payudara bisa dideteksi dengan perabaan.
Mamografi. Mamografi
(foto sinar X payudara) adalah etode yang sangat efektif untuk
mendeteksi kanker payudara secara dini, pada saat masih dapat
disembuhkan. Mamografi bahkan bisa mendeteksi kanker sebelum stadium 0
(carcinoma in situ), di mana tumor sudah terbentuk namun belum menyebar.
Namun demikian, sekitar 10% kanker payudara yang terdeteksi lewat
perabaan tidak terdeteksi melalui mamografi. Bila hasil mamografi Anda
negatif, namun Anda atau dokter merasakan adanya kanker, sebaiknya
lakukan mamografi ulang.
Ultrasonografi. Bila setelah dilakukan
mamografi ternyata didapati ada lesi yang mencurigakan, dokter bisa
menyarankan ultrasonografi. Dengan memanfaatkan gelombang suara
frekuensi tinggi, ultrasonografi dapat membedakan antara jenis lesi
kanker yang padat dan yang cair.
Perkembangan Kanker Payudara
Stadium 0: Sel-sel kanker belum mengganggu jaringan tubuh lainnya (non invasif).
Stadium I: Sel-sel kanker sudah mendesak dan mengganggu jaringan normal
di sekelilingnya. Ukuran tumor memiliki ukuran sampai 2 centimeter
namun belum mempengaruhi kelenjar limpha.
Stadium II : Kanker
berukuran antara 2 sampai 5 centimeter atau sudah menjalar ke kelenjar
limpha di bawah ketiak. Kelenjar limpha yang terpengaruh belum saling
mendesak atau mengganggu jaringan di sekitarnya.
Stadium IIIA :
Kanker berukuran lebih dari 5 centimeter atau sudah sangat mempengaruhi
kelenjar limpha. Kelenjar-kelenjar limpha saling merapat atau mendesak
jaringan sekitarnya.
Stadium IIIB: Kanker sudah menjalar ke kulit,
dinding rongga dada dan kelenjar limpha mamari di bawah rusuk. Pada
stadium ini kanker dapat menjadi sangat ganas sehingga menimbulkan
peradangan di sebagian atau seluruh dada.
Stadium IV: Penyebaran
kanker telah melampaui dada, ketiak dan kelenjar limpha hingga ke leher,
paru, liver, tulang belakang dan otak.
Terapi Kanker Payudara
Penanganan atau terapi kanker payudara tergantung pada usia pasien,
stadium kanker, jenis kanker dan tingkat penyebarannya. Berikut adalah
jenis terapi yang mungkin dilakukan:
Pembedahan, termasuk
mastektomi (pengambilan seluruh payudara) atau lumpektomi (pengambilan
jaringan kanker dari payudara dan menyembuhkan sisanya dengan penyinaran
radiasi)
Radiasi sel kanker untuk menurunkan ukuran kanker dan menghilangkan keluhan.
Kemoterapi, pemberian obat anti kanker dan terapi hormon untuk menurunkan risiko timbulnya kembali kanker.
Rekomendasi
Konsumsi VeMMA yang berbahan dasar manggis...dimana manggis memiliki
zat alfamangostin yang berperan mengedalikan sel kanker dengan mekanisme
apoptosis alias proses bunuh diri sel. (majalah My Heallthy Life, hal 5
: Kulit Manggis vs Penyakit)
Sel tubuh mengalami siklus pertumbuhan dan kemunduran secara teratur, yang prosesnya dikendalikan oleh gen dalam inti sel. Apabila gen mengalami gangguan, maka pertumbuhan sel tidak lagi terkontrol sehingga mengganggu fungsi tubuh. Sel yang tumbuh tidak terkontrol tersebut disebut kanke
r. Bila terjadi pada payudara, maka dinamakan kanker payudara. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker payudara dapat menyebar ke kulit, limpha, liver, otak, paru, dan organ lainnya melalui peredaran darah.
Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita Indonesia setelah kanker leher rahim.
Faktor Risiko Kanker Payudara
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker payudara:
Keluarga dekat (ibu dan saudara perempuan) ada yang sudah terkena. Sekitar 20% penderita kanker payudara memiliki saudara yang juga terdiagnosis kanker tersebut.
Menstruasi terlalu awal (<di bawah 12 tahun) atau terlambat menopause (> 50 tahun)
Usia di atas 50 tahun. Kanker payudara memang menyerang semua wanita tanpa memandang usia, namun semakin meningkat usia wanita, semakin besar risikonya. Wanita di atas 50 tahun memiliki risiko kanker payudara hingga 5-7%.
Tidak pernah melahirkan anak atau memiliki anak pertama di atas 30 tahun.
Merokok dan mengkonsumsi alkohol.
Belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa radiasi ponsel dan konsumsi minuman bersoda dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Gejala Kanker Payudara
Kanker payudara pada stadium awal biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun, pada stadium yang lebih lanjut salah satu atau beberapa gejala berikut mungkin dirasakan:
Benjolan atau penebalan di dalam atau di sekitar payudara dan ketiak.
Perubahan ukuran dan bentuk payudara.
Keluarnya cairan dari puting susu.
Perubahan warna atau bentuk kulit di sekitar payudara, areola, dan puting susu.
Ingat bahwa gejala-gejala tersebut di atas tidak selalu disebabkan oleh kanker payudara. Infeksi dan kista payudara juga bisa menimbulkan gejala yang sama. Bila Anda mengalami tanda-tanda tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter.
Diagnosis
Deteksi kanker payudara bisa dilakukan dengan:
Perabaan. Dokter atau Anda sendiri bisa melakukan perabaan untuk mengetahui keberadaan, ukuran dan tekstur kanker payudara. Tidak semua kanker payudara bisa dideteksi dengan perabaan.
Mamografi. Mamografi (foto sinar X payudara) adalah etode yang sangat efektif untuk mendeteksi kanker payudara secara dini, pada saat masih dapat disembuhkan. Mamografi bahkan bisa mendeteksi kanker sebelum stadium 0 (carcinoma in situ), di mana tumor sudah terbentuk namun belum menyebar. Namun demikian, sekitar 10% kanker payudara yang terdeteksi lewat perabaan tidak terdeteksi melalui mamografi. Bila hasil mamografi Anda negatif, namun Anda atau dokter merasakan adanya kanker, sebaiknya lakukan mamografi ulang.
Ultrasonografi. Bila setelah dilakukan mamografi ternyata didapati ada lesi yang mencurigakan, dokter bisa menyarankan ultrasonografi. Dengan memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi, ultrasonografi dapat membedakan antara jenis lesi kanker yang padat dan yang cair.
Perkembangan Kanker Payudara
Stadium 0: Sel-sel kanker belum mengganggu jaringan tubuh lainnya (non invasif).
Stadium I: Sel-sel kanker sudah mendesak dan mengganggu jaringan normal di sekelilingnya. Ukuran tumor memiliki ukuran sampai 2 centimeter namun belum mempengaruhi kelenjar limpha.
Stadium II : Kanker berukuran antara 2 sampai 5 centimeter atau sudah menjalar ke kelenjar limpha di bawah ketiak. Kelenjar limpha yang terpengaruh belum saling mendesak atau mengganggu jaringan di sekitarnya.
Stadium IIIA : Kanker berukuran lebih dari 5 centimeter atau sudah sangat mempengaruhi kelenjar limpha. Kelenjar-kelenjar limpha saling merapat atau mendesak jaringan sekitarnya.
Stadium IIIB: Kanker sudah menjalar ke kulit, dinding rongga dada dan kelenjar limpha mamari di bawah rusuk. Pada stadium ini kanker dapat menjadi sangat ganas sehingga menimbulkan peradangan di sebagian atau seluruh dada.
Stadium IV: Penyebaran kanker telah melampaui dada, ketiak dan kelenjar limpha hingga ke leher, paru, liver, tulang belakang dan otak.
Terapi Kanker Payudara
Penanganan atau terapi kanker payudara tergantung pada usia pasien, stadium kanker, jenis kanker dan tingkat penyebarannya. Berikut adalah jenis terapi yang mungkin dilakukan:
Pembedahan, termasuk mastektomi (pengambilan seluruh payudara) atau lumpektomi (pengambilan jaringan kanker dari payudara dan menyembuhkan sisanya dengan penyinaran radiasi)
Radiasi sel kanker untuk menurunkan ukuran kanker dan menghilangkan keluhan.
Kemoterapi, pemberian obat anti kanker dan terapi hormon untuk menurunkan risiko timbulnya kembali kanker.
Rekomendasi
Konsumsi VeMMA yang berbahan dasar manggis...dimana manggis memiliki zat alfamangostin yang berperan mengedalikan sel kanker dengan mekanisme apoptosis alias proses bunuh diri sel. (majalah My Heallthy Life, hal 5 : Kulit Manggis vs Penyakit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar