
"If a child cannot learn the way
we teach we must teach him the way he can learn." Tugas para
guru adalah menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan anak.
"I
always knew there was something wrong, but no one would take any notice." Tujuh persen
orang tua merasa bahwa anak mengalami dyslexia, tetapi mereka tidak tahu harus
berbuat apa.
There
is little doubt that the three R’s — reading, ’riting and ’rithmetic — are
crucial elements in the education of any child. When a child is unable to
master the three R’s they become three D’s — dyslexia, dysgraphia or dyscalculia.
Anak
sulit belajar? Hal tersebut sangat menjadi momok bagi orang tua di jaman
sekarang. Anak terpaksa les macam-macam, tidak ada waktu bermain, semua jadi
sibuk mengajar anak. Eh… tidak tahunya anak mengalami dyslexia. Mau les sampai
berjam-jam juga sia-sia.
Kesulitan
belajar merupakan istilah yang digunakan bila prestasi anak tidak sesuai dengan
intelegensinya. Anaknya pintar, kok raportnya jeblok? Penyebabnya banyak. Yang
paling sering dan sudah banyak diketahui misalnya ADHD (Attention Deficit
Hyperactivity Disorder) dengan ciri sulit berkonsentrasi, impulsif atau berbuat
dan berbicara tanpa pikir panjang, dan hiperaktif tidak bisa diam. ADHD bukan
termasuk kesulitan belajar, tetapi merupakan masalah gangguan perilaku.
Penyebab
kesulitan belajar lain yang relatif masih jarang diketahui adalah kesulitan
belajar spesifik, misalnya gangguan membaca (dyslexia), gangguan matematika
(dyscalculia), dan gangguan mengekspresikan suatu hal dalam bentuk tulisan
(dysgraphia). Dyslexia jarang ditemukan? Tidak juga. Di negara barat dyslexia
terjadi pada 5-10% di antara anak sekolah. Anak laki-laki mungkin sedikit lebih
banyak.
Di
antara ketiganya, yang paling banyak adalah gangguan membaca atau dyslexia.
Istilah dyslexia sebenarnya merupakan suatu tipe dari gangguan membaca, tetapi
sering dijadikan satu saja. Kali inipun kita gunakan istilah dyslexia yang
lebih populer. Dyslexia adalah ketidak mampuan membaca sesuai umurnya, padahal
intelegensinya normal. Kalau penyebabnya retardasi mental, tidak diajar membaca,
tidak mendapat kesempatan belajar, atau ada penyakit fisik tidak termasuk dalam
dyslexia.
Mengapa dapat terjadi dyslexia?
Dahulu
dianggap bahwa dyslexia terjadi karena gangguan gerakan bola mata untuk
membaca. Akibatnya banyak terapi ditujukan kepada fungsi mata, misalnya vison
therapy. Pendapat ini ternyata tidak benar dan terapi seperti ini tidak
dianjurkan lagi.
Sudah
diketahui bahwa ada beberapa perbedaan otak anak dyslexia dengan anak lain.
Perbedaan pertama adalah bahwa otak anak dyslexia tidak menunjukkan asimetri
pada pusat berbahasa di otak, di daerah temporal. Pada anak biasa, daerah
temporal di otak kiri lebih besar dibandingkan kanan. Pada anak dyslexia, kiri
dan kanan sama saja. Perbedaan kedua adalah bahwa pada anak dyslexia terdapat gangguan
sel saraf di beberapa daerah otak yang berhubungan dengan kemampuan membaca,
misalnya di daerah parietal dan temporal. Gangguan sel saraf ini sudah terjadi
sejak anak masih dalam kandungan. Ada faktor keturunan? Ya pada sebagian kasus.
Ada riwayat kesulitan membaca pada orang tua, paman atau nenek.
Bagaimana ciri anak dengan dyslexia?
Kemampuan
anak dyslexia membaca jauh di bawah kemampuan anak seumurnya. Kesulitan yang
dihadapi adalah kesulitan mengenal kata-kata, sulit mengeja, dan sulit
mengartikan bacaan. Beberapa ciri berikut dapat digunakan untuk mendeteksi
secara dini, walaupun dapat juga disebabkan oleh gangguan lain.
Anak
kecil
- Ada hari “baik” dan hari “buruk” tapa alasan jelas
- Sulit membedakan “di atas” dan “di bawah”, “ke dalam” dan “ke luar”
- Mengalami kesulitan dengan urutan, misalnya urutan warna. Di kemudian hari menjadi kesulitan mengurutkan nama hari atau mengurutkan angka.
- Riwayat keluarga dengan dyslexia
Pra
sekolah, kemampuan berbahasa
- Salah mengucapkan sesuatu berulangkali misalnya “obli” untuk “mobil”
- Susah mengingat nama benda yang sederhana, misalnya meja atau kursi
- Susah mengingat lagu anak-anak, dan urutan kata yang bunyinya sama, misalnya “kakak, kaki, kaku”
- Bicaranya terlambat
Pra
sekolah, kesulitan lain
- Cepat dapat berjalan tetapi tidak merangkak, ngesot
- Mengenakan sepatu sering terbalik
- Lebih senang mendengar cerita dibanding melihat tulisan
- Sering seperti tidak memperhatikan
- Sering tersandung, jatuh, menabrak sesuatu saat berjalan
- Sulit melempar, dan menangkap bola, melompat, bertepuk tangan menurut irama
Usia
sekolah, kemampuan berbahasa dan menulis
- Mengalami kesulitan membaca dan mengeja
- Salah menulis dan meletakkan gambar
- Sulit menghapal alfabet
- Huruf terbalik-balik, terutama “b” dan “d,” “tadi” dan “tapi”
- Menggunakan jari untuk menghitung
- Konsentrasi buruk
- Tidak mengerti apa yang dibaca
- Menulis lama sekali
Usia
sekolah, kesulitan lain
- Sulit mengenakan tali sepatu
- Sulit membedakan kanan-kiri, urutan nama hari atau nama bulan
- Sulit membedakan kanan-kiri
- Hilang rasa percaya diri
Bagaimana seorang dokter atau psikolog
dapat mendiagnosis dyslexia?
Diagnosis
dyslexia ditegakkan berdasarkan adanya perbedaan kemampuan intelegensi (yang
menggambarkan kemampuan anak untuk belajar) dengan hasil yang diperoleh (yang
menggambarkan prestasi anak sebenarnya). Walaupun demikian, tidak ada
kesepakatan mengenai derajat perbedaan tersebut. Menurut kriteria, perbedaan
tersebut adalah sekitar 15-30 point.
Tentunya
kemampuan intelegensi anak harus diuji untuk menyingkirkan kemungkinan
retardasi mental. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan terhadap hal-hal yang
mungkin merupakan penyebab kesulitan belajar, misalnya ada tidaknya ADHD, ada
tidaknya gangguan mata dan telinga, atau penyakit lain.
Apakah anak dyslexia dapat belajar
membaca?
Ya.
Anak yang mendapat terapi yang efektif sejak TK dan kelas 1 SD menunjukkan
hasil yang lebih baik dibandingkan anak yang baru mendapat pertolongan setelah
kelas 3 SD. Tetapi, kalau dyslexia terlambat ditangani hasilnya kurang baik.
Sebanyak 74% anak yang sulit membaca di kelas 3 SD tetap mengalami kesulitan
membaca di SMP, atau bahkan dewasa.
Walaupun
demikian, tidak ada kata terlambat untuk mulai membantu anak.
Bagaimana pengobatan anak dengan
dyslexia?
Sayangnya
tidak ada pengobatan dengan obat. Terapi ditujukan untuk mengatasi kesulitan
belajar yang spesifik, dan sangat individual. Kemudian dilakukan perubahan cara
pembelajaran dan lingkungan untuk membantu anak secara khusus.
Tahap
pertama adalah menentukan diagnosis dengan benar, kemudian melakukan berbagai
pemeriksaan psikologis dan fisik.
Kemudian
disusul evaluasi lengkap mengenai kelemahan dan kelebihan anak, tentunya dengan
bantuan guru di sekolah.
Setelah
itu, dilakukan pertemuan antara orang tua, guru dan profesional untuk
menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam memperbaiki cara belajar anak
secara individual. Orang tua juga diberi petunjuk bagaimana membantu anak di
rumah.
Akan jadi bagaimana di kemudian hari?
Sulit
untuk menentukan keadaan anak di kemudian hari. Dyslexia menyebabkan gejala
yang berbeda jenis dan beratnya pada masing-masing orang. Masa depan lebih baik
bila dyslexia cepat dikenal dan ditangani, dengan bantuan keluarga, teman dan
guru. Rasa percaya diri yang tinggi akan sangat membantu, juga proses belajar
yang khusus.
Harus
diingat bahwa anak dengan dyslexia sering menunjukkan kemampuan luar bisa
misanya sangat inovatif, memecahkan masalah dengan sangat baik, kreatif dan
berpikir lateral. Banyak orang dyslexia menjadi orang sangat sukses. Beberapa
contoh misalnya:
- Ann Bancroft – Wanita pertama yang menyeberangi es di kutub utara dan selatan. www.yourexpedition.com
- David Boies – Pengacara yang mempunyai klien sangat terkenal, misalnya wakil presiden Amerika dahulu Al Gore, Jr., Napster, dan Departemen Kehakiman Amerika dalam menghadapi Microsoft.
- Whoopi Goldberg – Bintang film dengan Academy Award untuk perannya dalam "Ghost," www.whoopi.com
Orang-orang
tersebut berjuang melawan dyslexia, dan berhasil mengalahkannya.
Referensi
- Kronenberg WG, Dunn DW. Learning Disorders. Neurol Clin N Am 2003;21:941-952
- Bub D. Alexia and related disorders. Neurol Clin N Am 2003;21:549-568
- Olitsky SE, Nelson LB. Reading disorders in children. Pediatr Clin N Am 2003;50:213-224
- British Dyslexia Association. www.bdadyslexia.org.uk
- International Dyslexia Association. www.interdys.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar