Disleksia
itu apa ya….?
Disleksia adalah suatu
kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan dalam membaca, mengeja dan menulis
yang dijumpai pada anak dengan level intelegensi yang normal atau bahkan pada
anak-anak yang cerdas. Disleksia dapat juga bermanifestasi sebagai gangguan
berkomunikasi ataupun kesulitan dalam matematika. Kali ini akan bahas lebih
banyak mengenai kesulitan matematika pada anak penyandang disleksia atau yang
dikenal sebagai “diskalkulia.”
Bagi
sebagian penyandang disleksia, sukses dalam bidang matematika mungkin merupakan
sesuatu yang harus dicapai dengan penuh perjuangan. Terdapat berbagai
penelitian yang melaporkan masalah ini. Salah satu peneliti (Steeves, 1983)
melaporkan bahwa justru banyak anak disleksia yang jenius di bidang
matematika.
Sebaliknya,
Joffe (1990) melaporkan bahwa 10% anak disleksia menunjukkan prestasi yang
sangat baik di bidang matematika, sedangkan 30% lainnya tidak menunjukkan
kesulitan sama sekali di bidang hitung menghitung. Namun Miles dan Miles (1992)
melaporkan bahwa sebagian besar penyandang disleksia mengalami diskalkulia.
Jika
anak disleksia-diskalkulia mendapatkan terapi yang tepat, mereka mampu memahami
konsep-konsep perhitungan, mampu mengerjakan tugas matematika dengan benar
bahkan akhirnya menunjukkan kejeniusan mereka di bidang hitung menghitung ini
sesuai dengan potensi kecerdasan yang mereka miliki. Kadang, kita tidak dapat
melihat prestasi ini saat anak berada di usia sekolah melainkan terlihat saat
anak sudah beranjak besar.
Salah
satu contohnya adalah seorang ilmuwan yang terkenal, Albert Einstein, di awal
usia sekolahnya menunjukkan kesulitan yang amat sangat di bidang aritmatika.
Saat itu kejeniusannya di bidang matematika belum tampak karena dia tidak mampu
memberikan jawaban yang cepat, akurat dan “hafal mati” seperti yang diharapkan
gurunya. Tentu saja hal ini diakibatkan karena Albert Einstein menyandang
disleksia. Beruntung, di kemudian hari Albert Einstein tidak membiarkan
ke-disleksia-diskalkulia-annya ini menghambatnya untuk terus berkarya di bidang
matematika.

Kesulitan-kesulitan
matematika yang sering dihadapi oleh penyandang disleksia cukup bervariasi,
sehingga satu individu disleksia bisa menunjukkan banyak kesulitan, namun
individu disleksia lain mungkin menunjukkan diskalkulia ringan saja.
Berikut
adalah berbagai aspek kesulitan yang mungkin ditemukan pada anak penyandang
diskalkulia :
- Membaca kalimat dalam soal matematika.
- Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan dalam memaknai kata-kata/istilah-istilah yang sering tampil dalam soal-soal matematika. Anak sulit memahami pengertian-pengertian sebagai berikut: ‘kurang lebih sama dengan’, ‘diantaranya’, ‘sejajar’, ‘jalan lain, ‘sama banyak dengan’, ‘di pinggir’, ‘di atas dari’, ‘di bawah dari’, ‘di samping dari’, ‘jauh dari’, ‘seimbang’, ‘sama dengan’, ‘lebih besar dari’, ‘lebih tinggi dari‘, ‘di depan dari’, ‘di sudut dari‘, ‘perkirakan’, ‘kurang dari’, ‘garis yang simetris’, ‘ganjil’, ‘genap’, ‘simetris’, ‘rata-rata’, ‘secukupnya’, dll
- Membaca angka, membaca angka dari kanan, menyalin angka.
- Sesuai dengan karakteristik disleksianya, anak seringkali salah “lihat” angka, lalu salah menyalinnya. Sering pula dijumpai mereka tidak dapat mengelompokkan angka dari kanan pada angka dengan jumlah digit yang banyak, misalnya: 752250, seharusnya dituliskan sebagai 752.250.
- Memahami nilai satuan, puluhan, ratusan sehingga menyulitkan pada penulisan, apalagi pada operasi perhitungan yang lebih kompleks lainnya misalnya pada operasi penjumlahan ke bawah, mereka menyusun nilai satuan di kelompok puluhan, atau nilai ratusan di puluhan.
- Mengenali simbol operasi perhitungan.
- Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan untuk memahami simbol (+), (-), (x), (:), dan simbol-simbol lain yang lebih rumit. Soal-soal yang ditulis dengan simbol (-), mungkin malah dikerjakan selayaknya instruksi (+). Bahkan pada sebagian anak dengan gangguan berat, mereka merasa tidak yakin apakah yang dimaksud dengan “bertambah” atau “berkurang”.
- Mengidentifikasi bentuk, apalagi jika bentuknya dibolak balik (misal: segitiga sama sisi, segitiga sama kaki).
- Mengenali dan memahami tanda “,”sebagai tanda desimal.
- Menghitung ke depan dan ke belakang .
- Melakukan perhitungan di luar kepala.
- Membaca, memahami dan mengingat “time table”.
- Mengatakan hari dalam seminggu, bulan dalam setahun.
- Menyebutkan waktu dan memahami konsep waktu.
- Memahami konsep uang.
- Menggunakan kalkulator dengan benar.
- Memahami persentase.
- Mengestimasi.
- Menggunakan rumus.
- Menggunakan rumus yang sama untuk soal yang berbeda.
Selain
kesulitan memahami bahasa matematika, anak disleksia-diskalkulia juga mengalami
kesulitan dalam memaknai istilah-istilah non matematika, hal ini yang membuat
mereka semakin susah menyelesaikan soal-soal matematika, terutama yang
berbentuk soal cerita.
Contoh:
- Untuk belajar membuat robot, Ayah harus membayar seratus ribu rupiah untuk empat kali pertemuan dimana satu kali pertemuan adalah 2 jam lamanya.
- Anak disleksia bingung memaknai istilah “dimana”, “lamanya”
Apa
yang dapat kita lakukan bagi penyandang disleksia-diskalkulia ?
- Gunakan bahasa matematika yang lebih sederhana, jelas dan lebih mudah dipahami anak disleksia.
- Latih anak untuk memahami dan menguasai simbol angka, dan simbol operasi perhitungan matematika.
- Bantu anak memahami soal cerita dengan cara menghadirkan benda-benda yang disebutkan dalam soal secara visual belajar praktikal.
- Gunakan kertas berpetak untuk membantu operasi perhitungan susun ke bawah.
- Lakukan fragmentasi soal cerita yang panjang menjadi kalimat-kalimat pendek yang mudah dipaham.
- Latih anak untuk mengerti dan menguasai konsep uang, misalnya dengan berlatih berbelanja sendiri mulai dari sejumlah barang yang sedikit sampai dengan yang cukup banyak
- Kertas kerja dibacakan dan direkam dalam audio tape, anak membaca sambil menyimak audio tape.
- Gunakan buku agenda untuk mencatat kegiatan kegiatan dan pekerjaan rumah.
- Yakinkan bahwa instruksi disampaikan dengan jelas, perlahan sehingga murid mengerti.
- Gunakan kertas untuk menutup soal yang sudah atau belum dikerjakan, soal yang terlihat hanya soal yang sedang dikerjakan
Selain
pendekatan khusus untuk aspek diskalkulianya, jangan lupakan strategi
pembelajaran umum bagi anak penyandang disleksia yaitu digunakan pendekatan
multisensoris (dapat berupa bantuan gambar, audiotape, dll), mengajarkan anak
untuk menggunakan logikanya, bukan menghafal mati, berikan materi bertahap satu
per satu, dan berikan materi dalam unit-unit kecil. Hal lain yang tidak boleh
dilupakan adalah memperhatikan aspek emosi anak. Selalu berikan semangat dan
pujian pada setiap usaha perbaikan yang telah mereka tunjukkan.
Referensi
:
- Henderson. Maths for the dyslexic. A Practical guide. David Fulton, New York. 1998.
- C.M. Stowe. How to reach & teach children & teens with dyslexia. Jossey-Bass, San Fransisco. 2000.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar