Buah dan Sayuran Penyambung Hidup Saya (Kesaksian Survivor Kanker Paru)
12 October 2013 at 18:27
Sumber : Berdamai Dengan KankerCISC (Cancer Information and Support Center)
Lelah Berkepanjangan
Saya memang perokok. Sejak muda, saya hobi menghembuskan napas bersama asap uang mengandung nikotin itu. Bukannya saya tidak menyadari bahaya merokok, yang salah satunya disebut sebagai penyebab kanker. Di belakang bungkus rokok, tercantum jelas etiket: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”.
Akan tetapi, peringatan itu layaknya sebuah hiasan bagi bungkus rokok. Saya tidah mengindahkannya, bahkan tak mau tahu tentang penyakit yang disebut-sebut dalam etiket bungkus rokok itu. Buktinya, banyak orang yang merokok, baik-baik saja, paling hanya batuk-batuk. Tak pernah sedikit pun tersirat bahwa suatu saat rokok ini dapat menyebabkan saya terkena kanker.

Keluarga saya bukannya tidak mau tahu tentang kebiasaan ini. Mereka sering memperingatkan saya akan bahayanya. Anak sulung saya, Carolina Junianti, yang kini menjadi dokter, dan istri saya, Liana Limandjaya, adalah sosok yang paling rajin untuk menasehati untuk menghentikan, atau mengurangi kebiasaan merokok. Maklum, setidaknya, sehari saya menghabiskan sebungkus rokok keretek dan rokok putih. Tapi, istri saya lebih takut saya akan terkena jantung atau stroke. Seperti saya, ia pun sama sekali tak punya bayangan rokok akan menjadi kanker.
Akhirnya, kanker menghampiri saya ketika usia 64 tahun pada 2006. Bila saya memiliki kehidupan sebelumnya, tak ada lagi gejala spesifik yang menunjukan saya bakal menghabiskan sisa hidup dengan penyakit yang konon paling mematikan ini. Saya memang sering batuk-batuk. Sesekali berdahak, terutama saat bangun tidur pagi hari. Tapi ludahnya tidak mengeluarkan darah. Saya pun tak pernah mengalami sesak napas. Yang tidak saya sadari, dan sepertinya harus diwaspadai, adalah beberapa bulan sebelumnya, tepatnya dua atau tiga bulan sebelum terdeteksi, saya sering merasa lemas tanpa sebab yang jelas.
Saya tinggal di Bandung, Jawa Barat, dan bekerja di pabrik tekstil di pekalongan, Jawa Tengah. Setiap akhir pekan, saya pulang ke Bandung. Bolak-balik Bandung-Pekalongan, saya membawa mobil, menyetir sendiri lagi.waktu itu saya pikir, apakah rasa lemas ini akibat usia yang sudah tua yang menggerus stamina saya. Rutinitas menyetir biasanya tidak menguras tenaga, kini membuat saya loyo sekali. Maunya tidur.
Anehnya, badan terasa lemas dan loyo seperti mengantuk, tapi jika dibawa untuk tidur, saya malah tidak bisa tidur. Mata sudah dipejamkan, tapi tetap tidak bisa tidur. Saya tidak bisa tidur. Tanpa disadari, muka saya jadi tidak cerah, kusam. Kalau diperhatikan di foto pernikahan anak saya kedua, sebetulnya rautnya sudah berubah. Muka saya tampak kuyu, seperti orang kelelahan.
Gejala kedua, dada di bagian kanan saya terasa sakit. tapi, lagi-lagi ini tidak membuat saya curiga. Maklum, sebagai orang yang bekerja di pabrik tekstil, saya sangka itu hanya masuk angin biasa.
Langsung Stadium Lanjut
Dengan
keluhan selalu lemas ini, saya memeriksakan diri ke dokter. Akhirnya,
saya dirujuk memeriksakan diri ke dokter paru-paru. Untuk memeriksakan
ini, saya harus menjalani, anatara lain, foto sinar-X, CT-scan toraks,
biopsi jarum halus, bronkoskopi, dan USG abdomen. Ternyata, saya
didiagnosa kanker paru stadium 3A. Sifatnya progesif, dan cepat. Kata
dokter umur saya tinggal 6 bulan lagi. Setelah diperiksa lebih lanjut,
diperoleh hasil staging, kanker paru yang saya terima adalah T2N2M0.
Kanker paru saya berada di kanan atas berukuran cukup besar, 2,7 x 11,3 x
4,4 cm; tipenya non-small cell lung cancer. Tipe ini biasanya berada di
jaringan. Oleh karena kanker saya stadium 3A, maka sudah ada jaringan
limfa di sekitarnya, akibatnya kanker saya tidak bisa di operasi, non
operable cancer. Diketahui dari hasil PET-scan.Untuk menyembuhkan kanker, mau tak mau saya diharuskan menjalani kemoterapi sebanyak 4 siklus yang dilakukan setiap 3 minggu sekali dan radioterapi sebanyak 33 kali, yang dilakukan setiap hari kerja, Senin hingga Jum'at. Radiasi ini dibarengi dengan radioterapi. Namun, saya tidak perlu dirawat di rumah sakit, badan saya termasuk fit untuk melakukan kemoterapi bersamaan dengan radioterapi. Saya pun tidak mempunyai komplikasi penyakit lain. Kondisi leukosit saya selama terapi juga termaksud stabil. Organ hati saya tidak terpengaruh sehingga memudahkan pengobatan. Kondisi ini sangat saya syukuri. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Banyak penderita kanker lain tidak seberuntung saya sehingga proses terapi kanker tidak sesuai jadwal dan harus dilakukan serangkainan tindakan untuk memperkuat kondisi tubuh. Dengan demikian, pagi hari dilakukan kemoterapi, sorenya saya mendapatkan terapi radiasi. Pengobatan ini berlangsung sejak 19 Juli hingga 21 September 2006.
Walalupun tubuh saya tergolong kuat, tetap saja proses kemoterapi dan radiasi memberikan saya efek yang dahsyat.
Pengobatan itu membuat saya pusing, mual, dan maunya muntah. Mood saya
pun sering terganggu. Nafsu makan berkurang sekali. Dalam periode
pengobatan itu, berat badan turun drastis. Dari 64 kg turun menjadi 56
kg. Pada masa pengobatan ini saya juga sering mengalami susah tidur,
badan terasa lemas, tapi kantuk tak kunjung datang. Seandainya saya dulu mengetahui banyak tentang kanker, mungkin saya akan berpikir beribu kali untuk menghisap rokok.Gejala Kanker Paru
Gejala paling umum diderita kanker paru adalah:
- Napas sesak dan pendek
- Sakit kepala, nyeri atau retak tulang tanpa sebab yang jelas
- Kelelahan kronis
- Hilangnya selera makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas
- Suara serak
- Pembengkakan di leher atau wajah
Setelah terapi kanker usai, boleh dibilang fisik saya tak siap untuk bekerja. Saya pun berhenti bekerja. Untunglah untuk pengobatan kanker, pimpinan perusahaan saya banyak membantu. Harus diakui, biaya pengobatan ini tidak sedikit, tetapi tetap harus dikeluarkan. Tabungan sudah jelas terkuras. Pada masa sakit ini, saya baru menyesali satu hal kekolotan saya dalam berinvestasi. Pada tahun 1980, sebetulnya saya sudah ditawari asuransi. Namun, begitu percaya dirinya, saya selalu menolak. Saya yakin bakal berumur panjang. Lagi-lagi pada tahun 2000 saya ditawari asuransi lagi, tapi saya tetap menolak. Buat apa asuransi? Lebih baik uangnya saya tabung. Tidak terpikirkan bahwa saat sakit, dengan memiliki asuransi, baik kematian maupun kesehatan, akan sangat membantu.
Seteleah terapi kanker, bukan berarti posisi saya langsung aman. Serangkaian usaha harus dilakukan agar kesehatan badan pulih dengan cepat. Kemoterapi dan radioterapi dilakukan untuk membunuh sel kanker. Namun, pada akhirnya pengobatan semacam ini tidak pandang bulu dalam membunuh, sehingga sel-sel yang sehat pun ikut terbunuh. Vonis kanker 3A juga membuat nyawa saya di ujung tanduk. Kemungkinan bisa selamat satu-dua tahun pertama tak begitu besar. Saya pernah membaca, kemungkinan penderita kanker pankreas bisa diselamatkan meski berobat, hanya 6%. Sementara itu kanker paru kemungkinannya 13% lebih.

Kemungkinan untuk bertahan hidup yang diberikan memang sangat kecil. Makanya, saya harus berjuang untuk bisa masuk dalam survivor kanker paru. Pertanyaannya: "Bagaimana caranya?"
Masalahnya, dokter yang melakukan terapi kanker hanya berpesan agar saya menjaga kesehatan. Saya dianjurkan untuk menghindari makanan yang dibakar, mengandung zat pewarna, pengawet, dan perasa buatan. Lalu, apakah dengan menghindari semua makanan itu saya bisa survive? Rasanya, belum tentu.
"Memangnya, tidak ada rahasia pengobatan lain?” saya penasaran. Saya tak mau hanya menunggu. Saya tak mau hanya berpangku tangan menghadapi kemungkinan masa 6 bulan vonis hidup saya bisa saya lewati atau tidak. Saya harus memperjuangkan hidup saya.
Sejak terkena kanker. Saya banyak berdoa pada Tuhan dan memanfaatkan waktu kosong karena sudah pensiun untuk membaca buku. Saya membaca buku apa saja, dimulai dari buku doa, buku yang menceritakan tentang kemukjizatan yang didapat dari orang lain, buku terapi kanker, dan buku yang ditulis berdasarkan pengalaman penderita kanker lainnya. Diantara berbagai buku itu, saya sangat tertarik membaca buku tentang kanker di negara Barat, berjudul: "An Alternative Medicine - Definitive Guide to Cancer." Buku ini bercerita tentang dokter-dokter yang berupaya menyembuhkan kanker dengan cara alternatif, bukan cara konvensional, yakni kemoterapi, radasi, dan operasi.
Para dokter dalam buku ini memiliki metode masing-masing untuk menyembuhkan kanker pasien. begitu banyaknya metode. Agak membingungkan pada awalnya. Saya pun jadi pusing, harus mengikuti metode dokter yang mana.
Namun, akhirnya, dari berbagai metode, saya menarik benang merahnya saja. Saya lalu mengambil kesimpulan bahwa untuk bisa survive dari kanker itu, saya harus mengkonsumsi vitamin A, C, dan E. Kemudian ada pula mineral, seperti seng, selenium, dan germanium. Itu semua bisa didapatkan dari suplemen vitamin. Khusus untuk germanium, karena tidak ada suplemennya, saya ambil dari jamur. Jamur apa saja asalkan fresh.
Di
luar itu, pada tahun pertama terkena kanker, saya pun mulai memakan
tomat yang dijus, yang sebelumnya dikukus untuk diambil zat likopen-nya.
Jika dikukus, tomat jadi asam. Konon, asam itu mengandung likopen.
Likopen adalah antioksidan, sama seperti vitamin A, C, dan E yang adalah
antioksidan.Ditambah lagi, saya jadi rajin makan sayur. Sayurnya apa saja, asal yang hijau-hijau. Untuk daging, saya batasi makannya. Saya lebih memilih ikan laut, terutama dari laut dalam, seperti kakap dan tuna. Kalau tak ada ikan, saya ganti dengan konsumsi omega 3.
Di luar itu, saya mempertahankan kondisi dengan secara rutin mengkonsumsi jamu temulawak dan makan kunyit putih. Cara makannya bisa dipisah-pisah, bisa juga disatukan. Saya biasa minum 50-75 cc setiap hari. Di Pekalongan, saya juga menanam pohon penyambung nyawa. Tanaman itu sering disajikan sebagai lalapan. Rasanya asin dan berlendir, tetapi tak apalah…. masih bisa diterima perut untuk disantap.
Pada tahun pertama terkena kanker, ada yang bilang, saya harus makan sarang burung walet. Sejak itu pula, saya mengkonsumsi sarang burung walet, sedikit- sedikit. Harga sarang burung walet cukup mahal, tetapi pemakaiannya bisa untuk berbulan-bulan. Yang tak pernah saya tinggalkan adalah mengkonsumsi produk suplemen green algae dari sebuah MLM. Ini karena ada sejarahnya. Dahulu, sewaktu kecil, anak laki-laki saya mengidap asma. Begitu seringnya asma itu kambuh, terhitung bisa sampai 100 hari dalam setahun dia tidak masuk sekolah saat SD. Saya sudah mencoba berbagai cara agar anak saya lebih kuat mengatasi asmanya, misalnya dengan olah raga renang, tapi kurang berhasil. Baru setelah anak saya mengkonsumsi produk ini dan juga berolahraga tenis teratur selama beberapa tahun, asmanya berkurang dan akhirnya sembuh.
Temulawak/Kunyit Putih
- 150 gram temulawak/kunyit putih diparut

- Masak dengan 1 liter air. Saring.
- Saringannya masih banyak, dimasak lagi dengan 250 cc air.
- Saring lagi hingga siap diminum. Saya biasa minum 50-75cc.
Jadi, sejak 2006, pola hidup seperti inilah yang saya jalankan. Pagi hari, saya tidak melupakan minum jus buah apel, nanas, nanas, dan pepaya. Menjelang siang, saya suka minum jus wortel dan brokoli. Untuk siang, saya makan sayur yang direbus sebentar kemudian dimakan dengan saus tomat buatan sendiri. Sayuran ini bisa dibuat sebagai salad, sop, atau dijus. Untuk protein, saya mengonsumsi tempe dan tahu. Untuk malam hari, menu saya hampir serupa dengan siang hari. Jus sayuran, saya konsumsi, paling tidak, untuk tiga kali sehari. Beragam sayuran bisa dibuat jus. Rasanya mungkin kurang enak, tapi faedahnya tinggi.
Sepertinya, repot ya … melihat gaya hidup saya sekarang. Saya ingin membagikan ilmu saya ini, tapi memang tidak mudah. Sayuran, apalagi mentah, bukan bagian dari kehidupan banyak orang. Rasa langu-nya tak jarang mengganggu, malah ada yang pahit. Apalagi, perlakuan untuk sayuran saat ini juga tak bisa sembarangan. Maklum, sekarang ini penggunaan pestisida juga tinggi. Tak cukup hanya dicuci dengan air, sayur-sayuran setelah dicuci, dimasukan ke larutan air yang diberi perasan dua jeruk nipis dan garam sesendok untuk takaran seliter air. Sayuran ini direndam selama 5-10 menit. Buah juga mendapat perlakuan yang sama dalam mencucinya.

Untuk kesehatan saya, boleh dibilang istri saya sangat berperan. Tanpa bantuannya, mustahil bagi saya sanggup menjalankan gaya hidup mengkonsumsi makanan sehat seperti ini. Istri juga yang sabar dalam membujuk dan mendampingi saya. Menemani orang sakit itu tidak mudah. Bahkan bisa jadi ikutan sakit dan stres. Apalagi mendampingi penderita kanker. Dengan kesakitan dan ketidaknyamanan akibat adanya kanker, maupun sewaktu pengobatannya, sering membuat saya uring-uringan. Pada saat-saat inilah istri saya sangat berperan unutk membujuk saya. Tak mengherankan, saya menjadi kurus, eh, istri pun ikut-ikutan menjadi kurus. Berta badannya turun 15 kg! Untunglah, dia selalu sehat. Bersama istri, kami berdua sering bereksperimen membuat berbagai variasi jus buah dan sayuran.
Selain repot, alasan penolakan teman saya yang lain atas gaya hidup baru usai pengobatan kanker itu adalah mereka tidak mau, di dalam sisa hidupnya, justru harus tersiksa dalam mengonsumsi makanan. “Capek-capek cari duit, buat apa kalau tidak dinikmati. Kalau memang harus pergi yah sudahlah,” itulah pikiran dari beberapa mereka.
Gaya hidup ini memang pilihan. Saya memilih tekun menjalankan gaya hidup ini karena saya ingin memperjuangkan hidup saya lebih panjang. Umur adalah rahasia Tuhan. Akan tetapi, jika ada jalan untuk “memperpanjang umur”, mengapa saya tidak mencobanya? Saya tak mau berbangga diri, tetapi dari banyak teman yang sama-sama berobat pada dokter dan rumah sakit yang sama dengan saya, saat ini beberapa diantaranya sudah berpulang.
STOP MEROKOK!
Ke depan, saya tak mau kanker ini juga menghampiri keturunan saya. Menghindari merokok adalah salah satu hal yang saya tekankan. Di luar merokok, jika saya analisis, mungkin, penyebab saya terkena kanker adalah stres di tempat kerja. Mengelola pabrik tekstil bukanlah hal yang mudah. Saya pun workaholic, saya bekerja sampai malam hari sehingga jam tidurnya melampaui tengah malam. Ini sering sekali terjadi. Apalagi saya tinggal di mess pabrik. Jadi, waktu saya bekerja bisa 24 jam. Orang Sunda bilang, saya ini manusia kalong, manusia malam. Sebetulnya saya enjoy menjalani pekerjaan ini karena memang saya suka. Namun, pola hidup dan kerja yang tidak sehat itulah justru memberi efek sebaliknya.

Lebih-lebih, saya bukanlah penggemar olahraga. Bisa dihitung dengan jari saya melakukan olahraga berkeringat. Ditambah lagi, pola makan saya yang tidak sehat. Gizi kurang seimbang, sayuran dan buah segar jarang sekali masuk ke daftar menu makanan. Pola makan pun sekena hati saya saja. bila perut meminta makan, baru saya makan. Tidak ada jam makan yang teratur. Hal lain yang bisa jadi penyebab kanker adalah pekerjaan saya di pabrik tekstil sejak muda. Di sini, paparan kimia selalu ada. Itulah kombinasi yang menurut saya menjadi pemicu penyakit saya.
Dan, satu hal yang saya sadari, jika sudah tua, mungkin pengaruh hormonnya juga berubah. Jadi kesimpulannya, apa yang saya makan, apa yang saya minum, apa yang saya hirup, apa yang saya pikir, itulah yang menjadikan kanker akhirnya datang menemani hidup saya..
Namun, saya tidak menyesali adanya kanker ini. Tanpa kedatangannya, saya tidak berkenalan dengan pola hidup makan yang sehat. Kanker ini juga mendekatkan saya kepada keluarga tercinta. Saya bukan lagi hendrata yang gila kerja, kini, pekerjaan saya adalah jalan-jalan ke rumah anak saya dan menemani cucu bermain. Jika saya tak terkena kanker, mungkin, saya masih terus sibuk bekerja di pabrik.
Tak hanya itu. Kanker ini pun mengenalkan saya pada CISC. Di wadah ini, saya bisa sharing pengalaman dengan sesama pasien kanker. Di CISC pula kita dapat menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam menanggung beban penderitaan ini. Selalu ada orang lain yang mau mendengarkan.
Selesai menjalankan kemoterapi dan radiasi, saya rutin menjalankan check up tes darah dan PET-scan setiap 3 bulan sekali, lalu menjadi 6 bulan sekali, 9 bulan sekali, dan terakhir dokter menyuruh saya kembali hanya setahun sekali, sekali untuk kontrol. Selama pemeriksaan ini, terutama sejak 2008, hasil pemeriksaan PET-scan menunjukkan arah yang semakin membaik, yang dilihat dari ukuran kanker yang semakin mengecil dan dokter menyatakan tidak ada aktivitas dari sel-sel kankernya lagi. Hal ini membuat saya dan istri bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan semakin meyakini pilihan mengonsumsi buah dan sayuran yang selama ini sudah saya jalani. Pada masa kontrol terkahir saya, November 2010, dokter menyatakan hasilnya masih baik dan November 2011 ini merupakan kontrol saya yang terkahir jika hasilnya tetap baik.

Dua tahun lagi, jika masih survive menjalani hidup dengan kanker, dan tentunya kalau Tuhan mengizinkan, saya punya rencana ingin membagi pengalaman tentunya lewat sebuah buku dan juga membagi resep-resep aneka jus sayuran dan buah yang baik untuk penderita kanker, seperti yang selama ini saya konsumsi. Saya ingin membaginya kepada banyak orang. Saya ingin, banyak penderita kanker, bisa menjalani hidup sehat seperti saya. Tapi, tunggulah hingga masa lima tahun, masa tunggu kanker ini terlewati. Barulah saya percaya diri mengeluarkan buku tersebut.
thanks atas infonya, ditunggu artikel yang lainnya
BalasHapushttp://obat-alami.info/obat-alami-kanker-paru-paru/
bisa saya menghubungi survivor kanker ini ?
BalasHapusibu saya juga mengidap kanker dan saya sangat butuh informasi" dari ibu. tolong balas komentar saya ini
terimakasih.
Bisa saya dapat kontaknya? Papa saya kanker paru sudah stadium 4a ketika divonis, dan sekarang sudah berumur 71 tahun. Boleh saya tahu kiat-kiatnya menghadapi pasien kanker dan cara menyembuhkannya secara alami? Tks
BalasHapusUntuk solusi kanker tanpa operasi dengan s.lutena.
BalasHapusS.lutena adlh nutrisi anti kanker dari jepang.
Wa.082221047499