Melawan Kanker dengan Semangat
22 October 2013 at 19:59
Sumber : CISC (Cancer Information and Support Center) By: Joseph Berliarang
Survivor Kanker Nasofaring
Siapa
tak kenal petinju Mike Tyson? Saya yakin, hampir semua orang
mengenalnya. Dengan ciri khas wajah seram dan leher betonnya, Mike Tyson
adalah sosok yang mudah dikenali. Saya pernah memiliki kemiripan dengan
Tyson. Leher saya besar, sama seperti petinju berleher beton itu.
Perasaan saya sendiri biasa-biasa saja, apalagi leher beton saya
didukung oleh perawakan saya yang gemuk. Berat badan saya 82 kg saat
itu. Padahal, itulah tanda-tanda kanker nasofaring menyapa saya.Dikira Gemuk Ternyata Kanker
Selama beberapa bulan, bahkan hitungan tahun, leher saya sudah mulai “lebih tebal”. Namun, hal ini terjadi bersamaan dengan bertambah gemuknya badan secara keseluruhan sehingga hal yang sebenarnya terjadi di leher menjadi terabaikan. Saya dan orang-orang dekatpun mengira, pembesaran leher ini akibat badan saya yang bertambah tambun. Dengan berat tubuh mencapai 82 kg, tinggi badan saya hanya 165 cm.
Salah satu sifat saya yang kemudian menjadi satu kelemahan adalah tidak suka mengeluh. Saya menjalani hidup apa adanya. Jadi, perubahan yang terjadi dalam tubuh saya, terutama leher, menjadi terabaikan juga oleh istri, anak, ataupun teman yang setiap hari bertemu. Lain cerita dengan teman yang lama tidak bertemu saya. Bentuk leher ini mengusik perhatiannya.
Saat itu, akhir Januari 2008, saya sedang menghadiri acara pertemuan warga usia lanjut di daerah kediaman saya, Sentul, Bogor. Saya bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang ginekolog, Dr. Obert. Dia mengatakan agar saya memeriksakan leher saya ke dokter. Menurutnya, pembesaran di leher saya tampaknya tak wajar. Dan, dia mencurigai pembesaran leher adalah kanker.
Bukannya merasa khawatir, saat itu saya justru merasa kaget sekaligus agak kesal. Saya merasa dia mengejek bentuk fisik leher saya. Lain hal dengan istri saya. Dia menjadi risau dan memaksa saya memeriksakan leher ini. Padahal, selama ini tidak ada gejala apapun. Saya sendiri selama bertahun-tahun tidak pernah merasakan sakit apa pun di leher saya. Desakan istri membuat saya menyerah.
Kemudian, saya memeriksakan leher di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di sana, saya berkonsultasi dengan Prof. Dr. Marzuki Suryaatmadja. Yang sekaligus dokter keluarga dan Spesialis Patologi Klinik. Saya pun menjalani tes laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap, USG, dan MRI. Seperti Dr.Obert, Prof.Marzuki menganggap serius pembengkakan di leher ini sehingga saya diminta untuk segera melakukan biopsi. Dari sini, hasilnya makin jelas. Ternyata, saya memang terkena kanker nasofaring!
Kanker nasofaring adalah kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung, di belakang langit-langit rongga mulut, dan sangat mudah menyebar ke mata, telinga, kelenjar leher, dan otak karena letaknya dekat dengan hidung, telinga, dan lubang di dasar tengkorak tempat keluarnya saraf yang mengatur gerak bola mata, kelopak mata, lidah, sebagai fungsi menelan.

Tak tanggung-tanggung, stadium kanker ini sudah di stadium 4B. Ini stadium lanjut. Di leher kiri saya ditemukan daging yang sudah besar dengan panjang sekitar 15 cm. Inilah yang menyebabkan leher saya membesar seperti Mike Tyson.
Yang lebih mengejutkan, dengan stadium tersebut, usia saya diperkirakan tinggal beberapa bulan lagi. Saat itu, usia saya 53 tahun. Saya sedang bersemangat untuk mengembangkan usaha baru. Tinggal menunggu izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk memasukkan produk suplemen dari USA. Namun, rasanya kanker ini menghancurkan segalanya. Saya sedih sekaligus kecewa.
Hari itu saya hanya merenung. Duduk di bangku taman belakang rumah. Saya merenung sejak pukul 23 hingga pukul 5 pagi. Saya tidak bisa tidur sama sekali. Saat itu saya bingung. Rasanya, sepanjang perjalanan hidup saya, saya tidak merasa pernah berbuat dosa besar. Tapi, mengapa Tuhan begitu kejam memberikan penyakit ini? Saya merasa tidak pantas dianugerahi kanker, apalagi kanker stadium 4.
Syukurlah, pada dasarnya, saya orang yang punya semangat tinggi. Saya tak mau berlama-lama meratapi nasib. Apapun kehendak Tuhan, baik manis maupun pahit, pasti ada hikmahnya. Mungkin bukan sekarang, bisa jadi nanti. Tepat pukul 05.00, saya mendadak merasa bersyukur. Saya bersyukur penyakit itu menimpa saya. Bukan menimpa istri atau kedua anak saya. Anak saya yang tengah kuliah di luar negeri awalnya ingin pulang ke Indonesia. Namun, saya larang. Saya beri tahu dia bahwa saya pasti akan sembuh.
Saya pun merasa, penyakit ini bukan lagi beban. Oleh karena itu, ketika seorang dokter onkologi yang memeriksa terkejut melihat saya datang berobat kanker dengan stadium sudah mencapai 4, dengan bercanda saya menjawab, “Maklumlah Dok, ini gara-gara saya sering bergaul dengan pejabat golongan atas. Jadi, untuk kanker, ya yang teratas, ya ... stadium 4 toh.”
Mendengar jawaban saya, dokter ini pun tertawa. Dia meyakinkan bahwa saya pasti sembuh karena pasien stadium 4 biasanya sudah tidak ada yang bercanda, alias serius. Dengan kata lain, saya akan mampu mengatasi kanker nasofaring stadium 4 ini.
Gejala Kanker Nasofaring
Kanker nasofaring pada stadium dini sering kali sulit diketahui karena letaknya yang tersembunyi di belakang rongga hidung atau di belakang atas langit-langit rongga mulut.
Gejala dini, antara lain:
- Pada telinga: berupa suara berdengung dan terasa penuh pada satu sisi tanpa disertai rasa sakit sampai dengan pendengaran berkurang.
- Pada hidung: berupa mimisan sedikit dan berulang, ingus bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus, dan pilek di satu sisi.
- Leher: kelenjar getah bening leher membesar
- Mata: juling, penglihatan ganda, kelopak mata menutup pada sisi yang terkena
- Kepala: nyeri dan sakit.

Turun Berat Badan 27 kg
Profesor Marzuki memperkenalkan saya kepada Dr.Lugyanti, seorang onkolog dari RSCM. Menurut Dr.Lugyanti, saya tidak usah dioperasi, tetapi menjalani paket kemoterapi dan radiasi. Saya pun menjalani kemoterapi di RSCM begitu diagnosis KNF (Kanker Nasofaring) saya positif. Persiapannya membutuhkan waktu hampir satu bulan.
Jadi, selama seminggu saya kemo, dua minggu kemudian saya istirahat. Ini dilakukan selama tiga kali. Setelah itu, setiap Senin pagi saya dikemoterapi, lalu siangnya saya diradioterapi mulai Senin hingga Jumat (waktu kerja) selama 7 minggu berturut-turut, nonstop.
Saya orang yang sangat bersemangat. Memandang segala sesuatunya dari sisi positif. Namun, saat menghadapi kemoterapi, saya sempat kolaps juga. Efek samping kemoterapi memang dahsyat. Mual dan mau muntah terus. Badan juga lemas sekali. Kemudian, saya sering mengalami halusinasi berat. Saya pernah merasa ada orang berjalan dan menembus badan saya. Saya pun pernah hendak menelepon temannya teman saya pada pukul 02.00. Saya mendadak bangun. Untunglah pikiran waras saya bekerja. Ini jam dua pagi, masa menelepon temannya teman saya dini hari. Jadi, gejala itu mungkin yang agak berat.
Saking habis tenaga karena kemoterapi, pernah suatu malam saya hanya bisa merangkak menuju kamar mandi. Malam itu, istri saya sedang menjaga. Tapi, dia sangat kelelahan sehingga tidak menyahut ketika saya minta bantuan. Padahal, muntah sudah tidak bisa ditahan. Ketika sampai di kamar mandi, hanya angin yang keluar.
Semangat hiduplah yang membuat saya bertahan. Tak terbayangkan sebelumnya jika orang seperti saya bisa juga “down”. Tapi, saya coba mengingat Tuhan dan orang-orang yang saya cintai. Begitupun untuk semua teman di luar yang sedang berjuang sembuh, ingatlah, sakit itu hanya sementara. Saya tahu, saat menjalani kemo, orang-orang sering merasa kesepian.
Usai kemoterapi, rambut saya rontok, botak, dan badan kurus! Berat badan turun 11 kg. Berat badan ini terus merosot turun lagi setelah radioterapi. Total usai terapi kanker, berat badan saya turun 27 kg. Dari berat 82 kg turun hingga 55 kg. Jadi, kalau berjalan, saya sudah seperti zombie, mayat hidup. Orang-orang yang melihat saya mungkin juga ketakutan. Berat badan saya anjlok 27 kg hanya dalam rentang waktu empat bulan. Tepatnya, akhir Januari 2008, saya divonis kanker nasofaring ini.
Di balik kepahitan, pasti ada hal yang manis. Itulah hukum alam. Mengidap penyakit kanker ini memang membawa hikmah tersendiri. Contohnya, karena rambut saya botak akibat kemoterapi, sekarang tumbuh lebih bagus. Dahulu, berat badan saya 82kg, sekarang maksimal 70 kg. Bernapas pun kini lebih enak.
Oleh karena itu, jangan cuma lihat jeleknya. Sebetulnya, sisi positifnya jauh lebih banyak. Apalagi saya sekarang mendapat teman-teman sesama penderita kanker. Kalau dipikir-pikir, kemoterapi dan radioterapi memang berat, tetapi kalau kita punya semangat yang kuat, semua bisa teratasi.
Bagian Leher Lengket
Saat
menjalani kemoterapi, kanker saya sudah memanjang 15 cm di leher
sebelah kiri, dari depan ke belakang. Setelah dikemo, puji syukur kepada
Tuhan, kanker sepanjang 15 cm itu berkurang. Hingga kemudian tinggal 7
cm. Nah pada saat itu, baru saya ditimpa radioterapi karena radioterapi
itu bisa memakan kanker sampai ke akar-akarnya. Untunglah radioterapi
itu cepat. Paling lama cuma dua menit.Akibat radioterapi, pelan-pelan mulut saya terasa aneh. Lengket. Sampai sekarang, mulut saya masih terasa lengket. Dan seperti pernah saya tanyakan kepada Profesor Susworo secara langsung,”Dok, apakah saya akan kembali normal?” Beliau hanya bisa memprediksi keadaan saya kembali normal hanya 70%-75%. Hebatnya, saat kemoterapi maupun radioterapi, saya berani menyetir mobil, bolak-balik Jakarta-Sentul. Tapi, kemudian saya dimarahi dokter karena takut terjadi kecelakaan. Kekhawatiran dokter benar, saya mengalami dua kali tabrakan. Kecil sih ... tapi ini sudah peringatan agar saya hentikan dulu gaya tak mau merepotkan orang lain itu.
Saat menjalani radioterapi, daerah leher yang digempur sinar radioaktif itu mengakibatkan kulit luar terbakar seperti borok. Orang-orang yang melihat sayapun ketakutan. Wajar sih. Bayangkan, wajah saya sudah begitu tirus, lalu dihiasi luka-luka yang cukup membuat orang eneg melihatnya.
Kanker leherpun membuat sulit sekali makan. Jadi, sama sekali tidak ada pantangan bagi saya. Sudah bagus jika saya bisa makan. Bayangkan ketika menjalani radioterapi, makan saus tomat saja saya sudah kepedasan. Saat itu, saya tidak bisa makan cabai. Makanan yang paling enak bisa berubah menjadi makanan paling tidak enak.
5 Besar Peringkat Kanker di Indonesia
Kanker nasofaring menempati urutan keempat terbanyak di antara semua jenis kanker di Indonesia. Hasil pendataan di sejumlah rumah sakit rujukan memperlihatkan, ada rata-rata 100 kasus baru kanker nasofaring per tahun di RSUP Cipto Mangunkusumo, 70 kasus baru per tahun di RS Kanker Dharmais, dan 60 kasus baru penyakit itu setiap tahun di RS Hasan Sadikin, Bandung. Angka kasus pada pria 2,18 kali lebih tinggi daripada perempuan.
Dokter Indonesia itu Bagus
Ketika pengobatan ini berjalan, saya sempat bertanya ke dokter tentang peluang hidup saya. Saya meminta pertanyaan itu dijawab dengan jujur. Kalau saya sudah mengeluarkan biaya mahal, tapi tidak selamat juga, bukankah lebih baik uang itu digunakan untuk biaya anak-anak saya sekolah, bukan? Sayapun ingin bertemu dengan teman dan lawan saya untuk minta maaf. Tujuannya, supaya saya bisa meninggal dengan tenang. Jadi, bukan menyesali, melainkan agar secepat mungkin bertobat dan berdamai dengan semua orang.
Lagi-lagi, secara diplomatis dokter menjawab bahwa melihat saya begitu bersemangat, ia yakin saya akan tetap survive. Dokter bilang, saya tahan banting dan penuh semangat. Ia bilang, jarang melihat pasien seperti saya.
Melihat keadaan saya sewaktu dikemoterapi dan radioterapi yang demikian parah, banyak yang menyarankan agar saya berobat keluar negeri, ke Eropa atau Guangzhou khususnya. Saya memang lama tinggal dan bekerja di Eropa. Seperti cerita di film-film, saya memulai kerja di luar negeri itu dari bawah. Dari seorang buruh pelabuhan hingga kemudian saya menemukan celah untuk menjadi pengusaha.
Pemikiran ke luar negeri ini pun pernah terlintas di benak. Apalagi saat saya cekcok dengan istri. Yah, sewaktu sakit ini, mood saya memang sering memburuk. Mungkin, ini pengaruh obat kemoterapi atau pengaruh rasa sakit dan tak nyaman yang saya rasakan. Atau, pengaruh saya merasa tak lagi berguna dengan adanya kanker yang menggerogoti.
Nah, saat mood jelek, siapa lagi yang jadi sasaran kalau bukan orang terdekat, yakni istri? Di mata saya waktu itu, semua yang dilakukan istri sering salah. Kalau diingat-ingat kelakuan saya dulu, rasanya maaf saja tak cukup untuk memperbaikinya. Misalnya ketika saya meributkan soal biaya rumah sakit, istri saya bahkan mengatakan,”Biarlah itu urusan saya. Kalau masih ada kesempatan harus diambil.” Seharusnya saya berterimakasih mendengar jawaban itu. Yang terjadi malah sebaliknya. Sempat malah terpikir untuk bercerai. Pokoknya, saya mau ke luar negeri. Saya akan menjalani pengobatan sendiri, semampu uang yang saya pegang. Biarlah kalaupun mati, saya mati sendirian saja. Saya tak mau membebani keluarga.

Mendengar itu, istri tak banyak menanggapi. Dengan tegar, ia tetap mendampingi saya. Saya tidak tahu apakah istri saya pernah mengangis. Yang saya tahu, sejak positif dinyatakan kanker, didepan saya dia tidak pernah menangis. Padahal, kalau nonton film India saja ia pasti menangis ...
Saat ribut soal keuangan untuk pengobatan inilah, terpikir oleh saya untuk berobat keluar negeri tempat saya bekerja dulu, Belgia. Namun, dari diskusi bersama teman-teman dan dokter di sana, ternyata penyakit kanker nasofaring adalah penyakit Asia. Jadi, pengobatannya lebih baik di Hongkong, Cina, atau tetap di Indonesia karena secara medis yang lebih berpengalaman menangani kanker ini adalah dokter-dokter di Asia ketimbang Eropa.
Sayapun memutuskan untuk tetap berobat di sini di Indonesia. Kebetulan sekali Profesor Marzuki dari RSCM sendiri bilang,tidak usah berobat jauh-jauh, lebih baik di RSCM saja. Ia kemudian mengenalkan kepada dokter-dokter dalam negeri yang kemudian memberikan hasil yang baik sekali. Saya pun merasakan pengobatan di Indonesia lumayan bagus. Perawatannya baik sekali. Dokter-dokternya sangat mendukung dan sangat membantu.
Jadi, kalau dikatakan dokter Indonesia payah-payah, saya tidak setuju. Persoalannya, dokter itu manusia, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Hanya kebetulan, kalau sedang sial, kita bertemu dokter yang tidak etis dan tidak bermoral; yang hanya memikirkan uang; atau, yang dokter tidak suka ditanya-tanya pasiennya. Jika bertemu dokter semacam ini, saran saya lebih baik pindah saja. Sebagai pasien, Anda punya hak.
Semangat dan Mental Jangan Sampai JatuhSebenarnya, jika sudah masuk stadium 4B, berarti harapan hidup sudah minim. Jadi, semangat, berdoa, dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan, selain medis.
Mengidap kanker memang tidak mudah. Semangat saya kadang turun saat melihat banyak teman yang dirawat bersama akhirnya meninggal satu per satu. Bahkan, dalam sehari pernah ada tiga orang yang meninggal karena kanker prostat, rahim dan payudara. Padahal, pada saat menjalani perawatan bersama, saya melihat mereka sehat-sehat saja. Terus terang, kenyataan ini sering membuat saya down.
Beruntung, pada masa pengobatan berjalan, kami mendapatkan informasi dari dr.Marlinda, Sp,THT bahwa di Jl. Imam Bonjol, Jakarta, ada grup pendukung kanker yang bernama CISC. Kami pun coba mencari informasi. Ternyata, kakak sulung salah satu pendiri CISC, Aryanthi Baramuli, adalah teman kecil saya. Bagi saya, tentunya ke Jl.Imam Bonjol 51 sekaligus bernostalgia. Apalagi setelah masuk kelompok ini, saya merasakan teman-teman yang sangat baik dan mendukung.
Dari banyak berteman dengan sahabat-sahabat di CISC, saya melihat semangat yang harus dikobarkan. Mental
jangan jatuh sekalipun kita menghadapi stadium lanjut. Mental juga
jangan jatuh sekalipun kanker itu kambuh kembali dan menyebar.
Buktinya, saya sendiri. Meski sudah stadium 4, saya tidak setuju jika
hidup itu sudah dibilang akan berakhir. Bukan hanya saya, banyak orang
lain yang sudah stadium 4 tetap survive.Parahnya, di negeri ini banyak orang percaya pada jalan pengobatan alternatif. Misalnya, dengan meminum air kencing dan semacamnya. Bagi logika saya, masa belajar dokter itukan begitu lama. Untuk jadi dokter saja, perlu waktu enam tahun. Mengambil spesialisasi, berarti tambah 4-5 tahun lagi. Berarti, begitu banyak yang dipelajari dokter. Masa orang hanya minum air kencing bisa sembuh? Ini jelas tidak masuk akal. Apabila ada yang bilang, dengan digosok sedikit dan didoakan, bisa sembuh dari kanker.
Saya sendiri pernah berdebat dengan orang yang berpikiran jika sakit, dia tidak perlu ke dokter karena hal itu sudah digariskan Tuhan. Tuhan lebih dari segala dokter. Saya lalu tanya dia,”Apakah dokter ciptaan Tuhan? Apakah tidak lebih tepat jika dikatakan Tuhan menggunakan dokter untuk menyembuhkan pasien-pasiennya?”
Yang sering terjadi dan saya lihat, orang yang awalnya stadium dini, mendadak berubah menjadi stadium lanjut karena orang ini lebih percaya pengobatan alternatif daripada dokter. Bagi saya, kalau hanya dengan disentuh atau didoakan saja sudah sembuh, berarti si pengobat alternatif ini seharusnya dapat penghargaan Nobel. Nyatanya, kan, tidak.
Hindari Makan yang Diasap/Dibakar
Setelah pengobatan kanker, tubuh memang sangat rentan karena kemoterapi tak hanya menghabisi sel-sel kanker, juga sel-sel yang baik. Paling tidak, enam bulan sampai satu tahun, daya tahan tubuh menjadi lemah sekali. Jika orang normal batuk sedikit, penderita kanker pasti ikut kena dan bisa lebih parah. Bahkan, jalan kaki pun sering terpeleset. Oleh karena itu, saya senantiasa berusaha menghindari berbagai faktor pemicu virus atau bakteri. Gaya hidup harus sehat dan rajin berolahraga. Kebetulan rumah saya di kawasan Sentul. Jadi, udaranya masih cukup bagus. Setiap hari, saya manfaatkan untuk jalan pagi.
Setelah terapi selesai, saya memang disarankan untuk hidup sehat. Berolahraga secara teratur dan makan makanan yang menyehatkan. Saya diharapkan tidak makan makanan yang diasinkan, seperti ikan asin, telor asin, makanan kalengan, dan yang dibakar.

Dan, jangan lupa kontrol secara teratur ke dokter untuk mendeteksi kekambuhan secara dini.
Kontrol, Apa yang Harus Dilakukan?
Melakukan kontrol atau pemeriksaan rutin sering sekali menimbulkan rasa cemas, takut dokter akan menemukan “sesuatu” lagi. Belum lagi ruang praktik mengingatkan Anda saat kesakitan. Ini yang membuat beberapa orang enggan mengecek kesehatannya secara teratur setelah lepas pengobatan kanker. Atau , membuat kunjungan ini sesingkat mungkin.
Padahal, kontrol adalah hal penting dalam rangkaian life after cancer. The National Cancer Institute membuat daftar pertanyaan yang kira-kira penting diajukan kepada dokter saat kontrol Anda:
- Seberapa sering saya harus memeriksakan diri lagi?
- Apa saja yang harus dilakukan dalam pemeriksaan itu, dan apakah itu yang selalu dilakukan dalam kunjungan berikutnya?
- Apa saja tanda atau gejala kanker saya muncul kembali atau semakin berkembang?
- Seberapa besar kemungkinan munculnya gejala itu?
- Perubahan apa saja yang terlihat, tetapi tidak membahayakan?
- Apa yang harus saya lakukan untuk mengubah pola makan?
- Apakah saya perlu mengubah rutinitas saya?
- Jika mengalami rasa sakit, apa yang harus saya lakukan?
- ü Bagaimana cara termudah mengontak dokter jika tiba-tiba saya ingin bertanya atau mengkhawatirkan keadaan diri saya?
- Adakah orang lain yang bisa saya ajak berkonsultasi jika kebetulan dokter berhalangan?
Pikirkan untuk Survive, Bukan Penyebabnya
Sampai sekarang, saya tidak tahu apa penyebab kanker saya. Katanya, pencetus nasofaring adalah makanan yang diasinkan, seperti ikan asin atau telur asin. Kebetulan, saya orang yang paling tidak suka kedua jenis makanan itu. Lalu, katanya ada faktor keturunan. Nyatanya, bapak saya meninggal karena penyakit jantung, ibu saya meninggal karena komplikasi. Keduanya meninggal tidak ada kaitannya dengan kanker. Jadi, tidak ada dari faktor keturunan.
Hal yang memungkinkan adalah saya sering mengonsumsi makanan kalengan. Sewaktu mahasiswa, saya sering makan makanan ini. Dahulu, saya juga perokok berat. Tapi sebelum terkena kanker saya sudah berhenti. Paru-paru saya bersih. Jadi, bukan rokok penyebabnya. Dan sangat mungkin saya terkena virus karena penyebab utama kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr.

Ketimbang memikirkan penyebabnya, saya terus berusaha sehat saja. Jalankan pola hidup sehat. Cobalah menikmati hidup dan jangan marah-marah. Dari pengalaman saya bersama teman-teman penderita kanker merasakan bahwa sel kanker itu hidup di makanan yang paling enak dan di emosi kita yang marah/ negatif.
Jangan lupa, bergabunglah dengan komunitas kanker. Dalam komunitas ini, kita akan dikuatkan dengan melihat semangat untuk sembuh dan bertahan dalam menghadapi kanker.
Dari Virus Hingga Proses PemasakanPenyebab utama kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr. Namun, ada beberapa faktor lain yang memengaruhi atau memicu terjadinya penyakit itu, yaitu:
- Faktor lingkungan, seperti iritasi oleh bahan kimia.
- Kebiasaan memasak dengan diasap/ dibakar.
- Sering mengonsumsi ikan asin yang diawetkan dengan nitrosamine dalam jangka panjang
- Mereka yang di lingkungan kerjanya sering terpapar gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida, dan serbuk kayu, berisiko terserang penyakit ganas ini.

Sungguh Terharu dan Termotivasi Membaca Tulisan Ibu Lenny Treestea. Bagaimana Kondisi Ibu Sekarang, Semoga Sehat Selalu ya Bu. Oh Ya Bu Lenny, Apakah Dr yg menangani Ibu saat itu sekarang masih praktek di RSCM? Terima Kasih Infonya Ya Bu.
BalasHapusBagaimana kondisi leher yg awalnya bengkak tadi? Apakah setelah terapi menjadi keras dan kenyal?
BalasHapusMohon infonya, thanks.
Bagaimana kondisi leher yg awalnya bengkak tadi? Apakah setelah terapi menjadi keras dan kenyal?
BalasHapusMohon infonya, thanks.
Terima kasih Untuk Tulisannnya, semoga menjadi Inspirasi dan Motivasi untuk yang terkena musibah Kanker Nasofaring...
BalasHapusTerima kasih Untuk Tulisannnya, semoga menjadi Inspirasi dan Motivasi untuk yang terkena musibah Kanker Nasofaring...
BalasHapusAlhamdulillah bisa membaca pengalaman dan perjuangan melawan kanker anda, berbicara soal pola hidup sehat memang harus sedikit demi sedikit dirubah agar menjadi kebiasaan. Namun sebagian org suka berpikir singkat utk melakoninya.
BalasHapuspadahal racun tubuh itu harus dihilangkan dgn konsumsi banyak sayur dan buah yang tidak mengandung pestisida dan pengawet lainnya.
Kebetulan saya pernah coba untuk ikuti program detoksifikasi tubuh dan alhamdulillah sekarang badan terasa enteng, semua racun hilang bersama kotoran, perut menjadi lebih ramping karena mungkin banyak lemak jahat yg dipecah.. saya program detoks selama 21 hari saja tapi manfaat yang dirasakan luar biasa.. saya sangat bersyukur pernah dikenalkan program detoks ini, bagi anda yang berminat bisa hubungi beliau ini 085735074473
Salam kenal Bu Lenny, apakah ibu sendiri yang mengalami sakit kanker nasofaring ini? Jika iya saya ingin bertanya seputar tips menghadapi pengobatannya. saya sendiri baru saja menerima hasil biopsi yang menyatakan massa di nasofaring saya adalah undifferenciated carcinoma.
BalasHapusterimakasih.
salam kenal ibu teresa hapsari, bagaimana keadaan ibu untuk saat neh, saya juga baru menerima hasil biopsi yang menyatakan hal yg sama tentang penyakit yaitu undifferenciated carcinoma di hidung. bagaimana pengobatannya bu? salam bahagia selalu,,,bu saya harap kita bisa saling berbagi cerita, 082381836027
Hapusistri saya juga kena ca nasofaring, didiagnosa setelah leher bengkak dan diketahui sudah stadium 4a, walau tanpa penyebaran ke organ lain, leher sdh bengkak, dibawa ke RSCM utk kemo 21 hari (3 siklus) dan ditambah 33x terapi sinar, setelah semua selesai dan hasil pemeriksaan kanker nasofaring sdh tidak ada, istri pulang ke rumah, tapi 3 minggu kemudian kondisi drop dan trombosit anjlok, di rawat 1 minggu di RS mitra, di infus dan transfusi, dibawa pulang kerumah stlh 1 minggu dan 1 minggu kemudian drop lagi dan dibawa ke RSCM utk transfusi trombosit, 3 hari disana kondisi makin drop, hari ke 4 perut mulai bengkak dan hari ke 5 sudah tdk bisa berkomunikasi, hari ke 6 meninggal dgn kondisi perut besar dan koma hepatik, diketahui bahwa dia kena kanker hati/fatty liver/hepatomegali, yg sebelumnya tidak terdiagnosa, kenyataan ini menyebabkan saya bertanya, apakah kanker nasofaringnya ber metastase ke hati atau sejak awal udah ada 2 jenis kanker ditubuh istri saya ?
BalasHapushalo teman teman dan admin.perkenalkan nama saya Daniel.
BalasHapusSaya sangat senang sekali jika diijinkan untuk membantu teman teman.
Bagi teman teman yang ingin menekan kanker, saya mempunyai teknologi dari jepang yang sudah terbukti bisa menekan kanker menjadi zero dan membuat kanker tidak bisa hidup lagi didalam tubuh.
karena teknologi dari jepang ini merupakan terapi, bukan berupa kemoterapi yang membuat sel baik didalam tubuh ikut mati.
Dan terapi ini tidak membuat mual atau badan menjadi panas karena obat kemo yang dimasukan ke dalam tubuh.
saya tidak mengerti banyak mengenai kemoterapi atau sel kanker yang berkembang didalam tubuh, tapi saya banyak menemui testimoni dimana penderita kanker setelah diterapi melalui teknologi jepang ini sel kanker nya berkurang bahkan sudah tidak ada lagi.
jika teman teman ingin terapi menggunakan teknologi jepang ini, bisa menghubungi saya ke :
DANIEL
0812-9802-1166
saya sangat senang sekali jika bisa membantu teman teman menjadi pulih dan sembuh. Tuhan memberkati.
Yuk pesan ke aku Ramuan kangker tiroid.ala herbal ibu Leny. SMS:0896-7677-2251 pak Soleh.
BalasHapussaya mahasiswi S1 psikologi, sedang menyusun skripsi dengan kriteria pasien kanker. saya memohon kesediaan bapak/ibu untuk mengisi kuisioner berikut : https://goo.gl/forms/59LHUwSiwOkRIny12
BalasHapusterimakasih banyak sebelumnya🙏